Kelembutan Hati Hasan al-Bashri

WhatsApp Image 2017-06-06 at 7.16.35 PM

 

Assalamualaikum wr wb

 

Alhamdulillah alhamdulillahirobil alamin wasolatu wasalamu ala asrofil ambiya i wal mursalin wa ala alihi wasobhi ajmain ama bad

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahnya kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiat. Tidak lupa shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW. Pada hari ini saya akan membawakan tema kultum tentang mengadapi segala sesuatu dengan kelembutan dan kesabaran. Sebelumnya marilah kita simak cerita berikut ini

Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Di dalam kamar Hasan al-Bashri selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan al-Bashri agar tetesan tak meluber. Hasan al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi ubin.

Hasan al-Bashri tak pernah berniat memperbaiki atap itu. “Kita tak boleh mengusik tetangga,” dalihnya.

Jika dirunut, atap kamar Hasan al-Bashri tak lain merupakan ubin kamar mandi seorang Nasrani, tetangganya. Karena ada kerusakan, air kencing dan kotoran merembes ke dalam kamar Sang Imam  tanpa mengikuti saluran yang tersedia.

Tetangga Nasrani itu tak bereaksi apa-apa tentang kejadian ini karena Hasan al-Bashri sendiri belum pernah mengabarinya. Hingga suatu ketika si tetangga menjenguk Hasan al-Bashri yang tengah sakit dan menyaksikan sendiri cairan najis kamar mandinya menimpa ruangan Hasan Al-Bashri.

“Imam, sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini,” tetangga Nasrani tampak menyesal.

Hasan al-Bashri hanya terdiam memandang, sambil melempar senyum pendek.

Merasa tak ada jawaban tetangga Nasrani pun setengah mendesak. “Tolong katakan dengan jujur, wahai Imam. Ini demi melegakan hati kami.”

Dengan suara berat Hasan al-Bashri pun menimpali, “Dua puluh tahun yang lalu.”

“Lantas mengapa engkau tidak memberitahuku?”

“Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib. Nabi kami mengajaran, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga’. Anda adalah tetangga saya,” tukasnya lirih.

Tetangga Nasrani itu seketika mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

 

Dari cerita diatas dapat kita ambil hikmah bahwa kelembutan dan kesabarana hati seorang Hasan Al Basri berhasil memikat hati seorang Nasrani untuk memeluk islam.Coba bayangkan kalu imam Hasan Al Basri langsung mengadukan masalah ini kepadanya mungki ia tidak akan memeluk islam

 

MAKA kita bisa memetik pelajaran bahwa sesuatu masalah lebih baik dihadapi dengan kepala dingin dan kelembutan hati agar didapat hasil yang maksimal

 

Semoga kultum diatas bermanfaat bagi kita semua

 

Wassalamualaikum wr wb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s